DUBAI (UAE)

Sebenarnya saya belum pernah menginjak tanah Dubai sama sekali. Yang ada hanyalah menapakkan kaki di lantai airport akibat transit penerbangan ketika menuju benua biru. Tidak ada cerita yang bisa saya tuturkan tentang kota ini, tetapi mampir sejenak di bandara internasional Dubai membuat saya sedikit merenung karena ada kejadian cukup menarik di mata saya. Tidak seperti tulisan lain dalam halaman Arround The World yang dalam bahasa inggris, tulisan ini memang sengaja ditulis dalam bahasa Indonesia. Sebab fokus pembicaraan kali ini adalah orang Indonesia.

Seperti telah diduga sebelumnya, sepulang dari menjenguk istri di Eropa saya bakal bertemu dengan para pencari nafkah yang bekerja di negara itu (baca: TKW) ketika transit di Dubai. Dan sesuai perkiraan juga, sebagian dari mereka akan satu pesawat dengan saya menuju Indonesia. Saya benar-benar tidak ada masalah dengan hal ini, bahkan saya sama sama sekali tidak underestimate dengan para TKW ini. Seorang ibu-ibu yang duduk di sebelah saya ketika menunggu di gate sempat mengeluh ke suaminya “yahhh, koq bisa bareng mereka sih….“. Tetapi saya pikir “lah memang kenapa? mereka juga punya hak menumpang, mereka juga membayar, dan mereka juga punya uang…..“. Sampai saat itu saya masih bersimpati pada para TKW.

Tetapi simpati itu mulai berkurang sedikit, ketika saya mulai menemui TKW yang kemayu. Mungkin karena merasa punya banyak uang, sudah sukses dan akan kembali ke Indonesia. Persis seperti wanita yang kerja jadi PRT atau buruh pabrik di Jakarta yang mudik lebaran ke desa. Saya masih merasa mahfum, karena sudah cukup banyak menemui orang yang sok kaya, sok keren, atau sok ngartis saat mereka mudik. Kejadian itu dapat menurunkan simpati saya yang tadinya 100% menjadi 90%.

Kebanyakan para TKW menunggu cukup lama di bandara sambil menunggu penerbangan ke Indonesia. Maka tidak heran apabila banyak yang sambil duduk atau tiduran di lantai (lantainya bersih, bahkan tidak sedikit yang dilapisi karpet….) bersama kelompoknya. Saya pun tidak ada masalah dengan hal ini. Toh saya dan istriĀ  pernah seperti itu juga (bahkan sampai bermalam, tidur beralaskan jaket, tanpa karpet) di bandara di Kota Milan. Tetapi ada pemandangan yang membuat simpati kepada para TKW saya turun dari 90% tinggal 50% saja. Ketika mereka akan beranjak dari tempat mereka duduk dan menuju gate pesawat yang baru saja dibuka….. taraaaaaaaa !!!! sebagian dari mereka meninggalkan sampah dan sisa-sisa makanan di lantai bandara. Saya pun hanya terbengong-bengong saja melihatnya.

 

Sisa-sisa makanan para TKW yang berserakan di lantai Bandara

Ini bukan negara kita Mbak Yu ! Di tempat ini tidak selayaknya bertingkah seperti ini. Bahkan di negara kita sendiri pun tidak sepantasnya. Ya mungkin karena di masyarakat Indonesia sudah biasa, jadi perbuatan seperti ini tidak terlalu mendapat perhatianĀ  Tapi ini di Bandara Dubai yang notabene merupakan salah satu bandara paling ramai untuk transit penerbangan internasional, dan di mana orang-orang relatif disiplin dalam membuang sampah. Jadilah sampah yang ditebarkan TKW Indonesia ini menjadi mencolok mata orang-orang yang ada di situ, dan mungkin juga menohok hati orang orang Indonesia yang turut berusaha membawa nama baik bangsa.

Saya tinggalkan saja sampah-sampah itu, karena saya juga harus masuk ke gate. Dan waktu untuk boarding pun tiba. Sesuai SOP di bandara Dubai, untuk kelancaran masuk ke pesawat maka penumpang akan dipanggil secara bergiliran berdasarkan nomor kursinya. Pertama penumpang executive class, lalu economy class dengan urutan tertentu. Dan satu lagi pemandangan menarik terjadi. Ketika diumumkan bahwa boarding sudah bisa dilakukan, hampir seluruh TKW (mungkin bisa mengisi setengah dari pesawat….) serentak berdiri untuk berebut masuk. Ya terkesan saling berebut, karena tidak membentuk barisan antrian. Sang penjaga counter pun bingung, karena seharusnya yang masuk terlebih dahulu adalah penumpang kelas eksekutif dan yang lain menunggu giliran. Dan kedua penjaga pun berteriak-teriak memperingatkan para calon penumpang… “Indonesie sit down… Indonesie sit down !!!

Weksssss, kena semua deh seluruh Bangsa Indonesia. Saya sendiri antara anyel dan kasihan kepada para TKW itu. Saya cukup yakin mereka tidak sengaja untuk tidak taat aturan, untuk mempermalukan diri sendiri di negeri orang, dan untuk mempermalukan seluruh rakyat Indonesia. Dan saya pun cukup yakin hal itu terjadi karena mereka tidak mengerti. Lalu pertanyaannya, siapa yang bertanggungjawab untuk membuat mereka lebih mengerti???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Skip to toolbar