{"id":763,"date":"2011-10-09T13:23:02","date_gmt":"2011-10-09T06:23:02","guid":{"rendered":"http:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/?p=763"},"modified":"2012-03-09T13:30:23","modified_gmt":"2012-03-09T06:30:23","slug":"bioetanol-dari-bahan-lignoselulosa-tantangan-menuju-komersialisasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/?p=763","title":{"rendered":"BIOETANOL DARI BAHAN LIGNOSELULOSA : TANTANGAN MENUJU KOMERSIALISASI"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/files\/2012\/03\/Bioetanol.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-766\" src=\"http:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/files\/2012\/03\/Bioetanol.jpg\" alt=\"\" width=\"240\" height=\"206\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kebutuhan minyak bumi yang semakin besar merupakan tantangan yang perlu diantisipasi dengan pencarian alternatif sumber energi yang lain. Cadangan minyak bumi Indonesia hanya sekitar 9 miliar barel dengan produksi mencapai 500 juta barel per tahun. Diperkirakan cadangan minyak bumi akan habis dalam waktu 23 tahun<sup>[1]<\/sup>. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mencari bahan bakar alternatif yaitu bahan bakar yang bersifat terbarukan, seperti bioetanol, biohidrogen, biodisel, biogas, biochar, dan bio-oil<sup>[2]<\/sup>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bioetanol (alkohol) adalah hasil dari aktivitas mikrobia, biasanya adalah yeast, yang mendegradasi gula melalui proses anaerobik, yaitu fermentasi.Menurut standar mutu Uni Eropa, bioetanol dapat diaplikasikan sebagai bahan bakar dengan mencampurkannya sebanyak 5% terhadap bensin. Penggunaan campuran bensin dan bioetanol 5% tidak memerlukan modifikasi mesin. Apabila mesin dimodifikasi, seperti telah diterapkan di Swedia, campuran bioetanol yang digunakan dapat lebih banyak lagi, hingga mencapai 85%<sup>[3]<\/sup><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Bioetanol dapat dibuat dari berbagai jenis karbohidrat seperti gula, pati, atau lignoselulosa. Secara umum proses pembuatannya meliputi sakarifikasi \/ hidrolisis, fermentasi,\u00a0 dan distilasi. Hidrolisis dapat dilakukan secara enzimatis yang bertujuan untuk memecah polimer menjadi sukrosa, kemudian sukrosa dapat difermentasi dengan yeast komersial seperti <em>Saccharomyces ceveresiae <\/em>untuk menghasilkan bio-etanol<sup>[2]<\/sup>. \u00a0Selain yeast, dapat pula menggunakan bakteri atau <em>filamentous fungi<\/em>. Pemecahan sukrosa menjadi dapat dibagi menjadi dua tahap.\u00a0 Tahap pertama adalah pemecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa<\/p>\n<p style=\"text-align: center\" align=\"center\"><strong>C<sub>12<\/sub>H<sub>22<\/sub>O<sub>11<\/sub> &#8211;&gt;<\/strong><strong> C<sub>6<\/sub>H<sub>12<\/sub>O<sub>6<\/sub> + C<sub>6<\/sub>H<sub>12<\/sub>O<sub>6<\/sub><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Sukrosa\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Glukosa\u00a0\u00a0\u00a0 Fruktosa<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Sedangkan tahap kedua, merupakan pemecahan gula sederhana menjadi etanol yang dilakukan oleh <em>zymase<\/em>, enzim yang ada juga dimiliki oleh mikroorganisme tersebut<em>.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: center\" align=\"center\"><strong>C<sub>6<\/sub>H<sub>12<\/sub>O<sub>6<\/sub>\u00a0<\/strong><strong><strong>&#8211;&gt;<\/strong><\/strong><strong> 2C<sub>2<\/sub>H<sub>5<\/sub>OH + 2CO<sub>2<\/sub><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Produksi bioetanol dari gula dan pati sampai saat ini sudah <em>establish<\/em>, bahkan sudah banyak diterapkan dalam skala industri seperti di Swedia, Perancis, Kanada, USA, Spanyol, dan Brazil, namun proses produksi dari lignoselulosa, hingga saat ini masih dalam taraf pengembangan. Artikel ini banyak meninjau permasalahan dalam proses produksi bioetanol dari bahan lignoselulosa, sehingga menghambatnya untuk produksi secara masal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>PERKEMBANGAN PROSES PRODUKSI BIOETANOL DARI LIGNOSELULOSA<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Karbohidrat kompleks berupa lignoselulosa dapat dikonversi menjadi bioetanol dengan fermentasi, namun sampai saat ini masih banyak tantangan yang harus diatasi.\u00a0 Secara umum tahapan proses untuk membuat etanol dari lignoselulosa meliputi delignifikasi, pre-hidrolisis, hidrolisis enzimatis, dan fermentasi<sup>[4]<\/sup>. Setelah tahapan fermentasi diperlukan pula tahapan purifikasi untuk mendapatkan etanol anhidrat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>Delignifikasi<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Tahapan delignifikasi merupakan tahapan untuk menghilangkan lignin, sebab lignin merupakan bagian keras pada kayu yang tidak dapat dikonversi menjadi etanol. Untuk memisahkan lignin dari selulosa dan hemiselulosa antara lain dapat dilakukan dengan <em>steam exploition<sup>[5]<\/sup><\/em>. Selanjutnya selulosa dan hemiselulosa dapat dikonversi menjadi bio-etanol dengan hidrolisis dan fermentasi, seperti yang terlihat pada Gambar 1.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/files\/2012\/03\/Lignoselulosa-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-764\" src=\"http:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/files\/2012\/03\/Lignoselulosa-1-300x71.jpg\" alt=\"\" width=\"364\" height=\"86\" srcset=\"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/files\/2012\/03\/Lignoselulosa-1-300x71.jpg 300w, https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/files\/2012\/03\/Lignoselulosa-1-1024x243.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 364px) 100vw, 364px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>Hidrolisis<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Hidrolisis dilakukan untuk memotong ikatan H<sub>2<\/sub>\u00a0 dalam fraksi selulosa dan hemiselulosa menjadi gula sederhana, seperti heksosa dan pentosa. Hidrolisis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu hidrolisis secara kimiawi ( dengan asam encer atau asam pekat) dan hidrolisis secara enzimatis. Hidrolisis secara enzimatis sebenarnya lebih baik daripada hidrolisis secara kimia, sebab mampu mendegradasi karbohidrat kompleks menjadi gula sederhana dengan hasil yang lebih banyak.\u00a0 Tetapi, hidrolisis enzimatis juga masih mempunyai beberapa kelemahan dibandingkan hidrolisis kimiawi, yaitu kecepatan hidrolisis yang rendah dan mahal. Kedua masalah tersebut yang masih menghambat komersialisasi bioetanol dari lignoselulosa sampai saat ini<sup>[6]<\/sup>, sehingga perlu segera untuk ditemukan solusinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Untuk menggantikan hidrolisis enzimatis supaya lebih cepat,maka dilakukan hidrolisis asam. Namun hidrolisis asam ternyata juga mempunyai kelemahan. Hidrolisis asam encer sangat korosif karena adanya pengenceran dan pemanasan asam. Proses ini membutuhkan peralatan yang metal yang mahal atau dibuat secara khusus. <em>Recovery<\/em> asam juga membutuhkan energi yang besar. Selain itu pada hidrolisis asam encer terjadi degradasi gula d dan pembentukan produk samping yang tidak diinginkan. Degradasi gula dan produk samping ini tidak hanya akan mengurangi hasil panen gula, tetapi produk samping juga dapat menghambat pembentukan ethanol pada tahap fermentasi selanjutnya. Kelemahan\u00a0 hidrolisis asam pekat juga membutuhkan biaya investasi dan pemeliharaan yang tinggi, hal ini mengurangi ketertarikan untuk komersialisasi proses ini<sup>[12]<\/sup><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong><em>Fermentasi<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Gula sederhana hasil hidrolisis dapat dikonversi menjadi etanol baik secara aerobik maupun anaerobik. Persamaan reaksi pembentukan etanol dari heksosa dan pentosa secara aerabik maupun anaerobik dapat dilihat pada Gambar 2.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/files\/2012\/03\/Lignoselulosa-2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-765\" src=\"http:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/files\/2012\/03\/Lignoselulosa-2-300x75.jpg\" alt=\"\" width=\"379\" height=\"94\" srcset=\"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/files\/2012\/03\/Lignoselulosa-2-300x75.jpg 300w, https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/files\/2012\/03\/Lignoselulosa-2-1024x258.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 379px) 100vw, 379px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kriteria mikroorganisme yang digunakan dalam proses tersebut harus memenuhi syarat antara lain melakukan pertumbuhan dan fermentasi secara cepat, menghasilkan etanol yang tinggi, mampu bertahan dalam kadar glukosa dan alkohol yang tinggi,\u00a0 serta mampu bertahan terhadap inhibitor yang terdapat pada subtrat yang akan difermentasi. Beberapa inhibitor yang terdapat dalam subtrat lignoselulosa antara lain asam organik dengan berat molekul rendah, komponen turunan furan, serta komponen fenolik dan anorganik yang terbentuk pada saat hidrolisis<sup>[7]<\/sup>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lignoselulosa dapat mengandung xylosa dan arabinosa yang tidak dapat difermentasi menggunakan yeast komersial seperti <em>S. cerevisiae<\/em><sup>[8]<\/sup>, sehingga diperlukan usaha untuk menemukan strain rekombinan bakteri dan yeast untuk mewujudkan komersialisasi bioetanol dari lignoselulosa. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa mikrobia yang dapat digunakan untuk fermentasi etanol antara lain <em>Eschercia coli<\/em> KO11, <em>E. Coli<\/em> FBR5, <em>Zymomonas mobilis<\/em> 8b<sup>6<\/sup>, <em>Pichia stipitis<\/em><sup>8<\/sup>, <em>P stipitis<\/em> CBS 5773, <em>S. cerevisiae<\/em> 424A (LNF-ST), <em>S. cerevisiae<\/em> TMB 3006, dan <em>S. cerevisiae<\/em> TMB 3400. <sup>[9]<\/sup><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Rekombinan yang dikembangkan ternyata masih memiliki kelemahan, yaitu tidak mampu memfermentasi xylosa jika masih ada senyawa toksik (seperti turunan furan dan komponen fenol) yang ada dalam subtrat. Sehingga untuk fermentasi xylosa diperlukan proses detoksifikasi terlebih dahulu. Sejauh ini diketahui hanya rekombinan <em>S. cerevisiae<\/em> yang mampu memfermentasi xylosa tanpa harus melakukan proses detoksifikasi subtrat sebelumnya <sup>[9]<\/sup>. \u00a0Keunggulan lain penggunaan rekombinan <em>S. cerevisiae <\/em>untuk fermentasi<em> <\/em>adalah dapat menghasilkan etanol dari glukosa \u00a0dengan randemen tinggi, yaitu sekitar 0.4\u20130.51 g-etanol\/g-glukosa dengan produktivitas hingga 1,0 gram\/L h.<sup>[10]<\/sup><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Pengembangan rekombinan mikroorganisme tidak mudah untuk dilakukan. Penelitian yang pernah dilakuakan di USA, adalah dengan memodifikasi strain bakteri gram negatif <em>( E. Coli, Klebsiella oxytoca,<\/em> atau <em>Erwinia<\/em> sp) dengan <em>encoding<\/em> gen dari <em>Zymomonas mobilis<\/em> yang digunakan untuk memproduksi etanol, melalui kromosom<sup>[11]<\/sup>. Tujuan utamanya adalah menciptakan rekombinan mikrobia untuk proses fermentasi xylosa yang efektif dan efisien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>KESIMPULAN <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Bioetanol merupakan salah satu energi terbarukan yang dapat digunakan sebagai campuran pada bensin untuk menjalankan mesin. Produksi bioetanol dari gula dan pati telah mencapai tahap komersialisasi, namun proses produksi bioethanol dari lignoselulosa sampai saat ini masih dalam tahap pengembangan. Permasalahannya terletak pada hidrolisis enzimatis yang lambat serta biaya yang mahal. Hal ini dapat diatasi dengan hidrolisis asam, namun hidrolisis asam masih memilki beberapa kelemahan. Selain itu proses fermentasi xylosa menjadi etanol yang efektif dan efisien masih perlu dikembangkan. Salah satu solusinya adalah dengan mengembangkan strain rekombinan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>REFERENSI<\/strong><\/p>\n<address><sup>[1] <\/sup>\u00a0Erliza-Hambali, 2007. <em>Teknologi Bioenergi<\/em>. PT Agromedia Pustaka, Jakarta.<\/address>\n<address><sup>[2]<\/sup> Demibas, A., 2008. Biofuels sources, biofuelpolicy, biofuel economy and biofuels projections. <em>Energy Conversion and Management 49 (2008) 210<\/em><\/address>\n<address><sup>[3]<\/sup> Demibas, A., 2007. Progress and recent trends in biofuels. <em>Progress in Energy and Combution Science 33 (2007) 1-18<\/em><\/address>\n<address><sup>[4]<\/sup> Baltz RA, Burcham AF, Sitton OC, Book NL. The recycle of sulfiric acid and xylose in the prehydrolysis of corn. <em>Energy 1982 ; 7 ; 259-65<\/em><\/address>\n<address><sup>[5] <\/sup>Tanahashi, M., et al. 1983. Characterization of explotion wood. 1. Structure and physical properties., <em>Wood Research, Vol. 69, pp. 36-51.<\/em><\/address>\n<address><sup>[6]<\/sup> Mosier N, et al. 2005. Feature of promising technologies for pretreatment of lignocellulosic biomass. <em>Bioresour. Technol 96. 1986-1993<\/em><\/address>\n<address><sup>[7] <\/sup>Larsson et al, 2000. Influence of lignocellulosic-derived aromatic compounds on oxygen-limited growth and ethanolic fermentation by <em>S. cereviseae<\/em>. <em>Appl. Biochem. Biotechnol 84-86, 617-639.<\/em><\/address>\n<address><sup>[8] <\/sup>Die BS, et al. 2003. Bacteria engneered for fuel ethanol production : current status. <em>Appl. Biochem. Biotechnol 83, 258-266.<\/em><\/address>\n<address><sup>[9] <\/sup>Hahn-Hagerdal, et al. 2006. Bio-ethanol \u2013 the fuel tomorrow from the residues of today. <em>TRENDS in Biotechnology Vol 24 No 12<\/em><\/address>\n<address><sup>[10] <\/sup>\u00d6hgren, K., Rudolf, A., Galbe, M., Zacchi, G., 2006. Fuel ethanol production from steam-pretreated corn stover using SSF at higher dry matter content. <em>Biomass and Bioenergy 30 (10), 863\u2013869.<\/em><\/address>\n<address><sup>[11]<\/sup> Ingram LO and Joy B Doran. 1995. Conversion of cellulosic materials to ethanol. FEMS Microbiology Reviews 16 235-241<\/address>\n<address><sup>[12] <\/sup>Taherzadeh, Muhammad J. and Karimi, Keikhosro. 2008, Pretreatment of Lignocellulosic Waste to Improve Bioethanol and Biogas Production. <em>Int. J. Mol. Sci 9, pp. 1621-1651.<\/em><\/address>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebutuhan minyak bumi yang semakin besar merupakan tantangan yang perlu diantisipasi dengan pencarian alternatif sumber energi yang lain. Cadangan minyak bumi Indonesia hanya sekitar 9 miliar barel dengan produksi mencapai 500 juta barel per tahun. Diperkirakan cadangan minyak bumi akan habis dalam waktu 23 tahun[1]. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mencari bahan bakar<br \/><a class=\"moretag\" href=\"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/?p=763\">+ Read More<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":532,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14049],"tags":[114365,1222,1184,114366],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/763"}],"collection":[{"href":"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/532"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=763"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/763\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=763"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=763"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahadiandimas.staff.uns.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=763"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}